Membangun Daerah, membangun Indonesia – Korindo Group

Membangun daerah

Di zaman sekarang, perkembangan teknologi menjadi sebuah inovasi akan perkembangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat dunia. Melalui perkembangan ini, mulailah dibangun infrastruktur yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat. Kemajuan pembangunan mulai bisa dirasakan terkhususnya di Indonesia dengan memperhatikan kemajuan pembangunan seperti gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, industri bahkan tempat wisata yang mendominasi minat dari masyarakat. Dengan adanya kemajuan ini maka pertumbuhan ekonomi pun semakin pesat dengan munculnya pusat perbelanjaan dan  pusat-pusat bisnis yang mendorong pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Dengan adanya pertumbuhan ini, maka bisa dipastikan Indonesia sudah mencapai titik akhir dari sebuah kemajuan.

Namun, realita tidak sejalan dengan ekspetasi. Kemajuan yang diharapkan dari pertumbuhan ekonomi belum merata di seluruh indonesia sehingga membuat beberapa wilayah merasa kurang diperhatikan dan membuat industri-industri tidak berkembang di beberapa wilayah. Inilah yang membuat pemerataan di beberapa wilayah itu tidak berjalan dengan baik. Wilayah inilah yang disebut dengan Daerah 3 T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, terdepan memiliki arti “Paling muka, paling depan”, artinya mereka yang berada di posisi terdepan dari wilayah-wilayah yang tingkat perekonomian dan kesejahteraan-nya masih tertinggal dari daerah-daerah utama yang maju. Ini memberi suatu pemahaman yang akurat tentang daerah-daerah yang sebenarnya harus di utamakan dalam peningkatan tingkat kesejahteraan dan perekonomian. Kata terluar berasal dari kata “luar” yang dimaksudkan untuk menandakan suatu wilayah yang tidak merupakan bagian dari sesuatu itu sendiri. Kata ini biasanya dimaksudkan untuk mengartikan suatu wilayah yang kurang diperhatikan dan berbeda perlakuan nya dengan daerah yang lain. Sedangkan Tertinggal berarti “ditinggalkan, tercecer” atau berada dibelakang. Kata ini memberi arti yang signifikan dengan keadaaan beberapa daerah yang memang kurang diperhatikan atau berada di bagian belakang dalam kemajuan suatu daerah berdasarkan fakta Ekonomi dan Kesejahteraan. Pada akhirnya, Daerah 3 T menunjuk kepada daerah terbelakang yang memiliki tingkat perekonomian dan kesejahteraan Masyarakat yang rendah.

Daerah-daerah dengan predikat 3 T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) bisa ditinjau dari tingkat perekonomian yang rendah, sarana dan prasarana yang terbatas dan kurang memadai, sumber daya manusia yang kurang, aksesibilitas, biaya yang terbatas dan karakteristik alami daerah. Melalui inilah kemudian suatu daerah bisa dikatakan tertinggal atau tidak.

Di Indonesia sendiri, hampir kebanyakan  dari daerah-daerah nya memiliki kriteria sebagai daerah 3 T.  Peraturan Presiden (perpres) Nomor 131 pada tahun 2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015–2019 mencatat hampir 23 Provinsi yang terdiri dari 122 kabupaten di Indonesia masih bisa digolongkan sebagai daerah tertinggal dan sangat perlu diperhatikan. Daerah-daerah ini meliputi:

  1. Provinsi Aceh (Kab. Aceh Singkil)
  2. Provinsi Sumatera Utara (Kab. Nias, Kab. Nias Selatan, Kab. Nias Utara dan Kab. Nias Barat)
  3. Provinsi Sumatera Barat (Kab. Kepulauan Mentawai, Kab. Solok Selatan dan Kab. Pasaman Barat)
  4. Provinsi Sumatera Selatan (Kab. Musi Rawa dan Kab. Musi Rawas Utara)
  5. Provinsi Bengkulu (Kab. Seluma)
  6. Provinsi Lampung (Kab. Lampung Barat dan Kab. Pesisir Barat)
  7. Provinsi Jawa Timur (Kab. Bondowoso, Kab. Situbondo, Kab. Bangkalan dan Kab. Sampang)
  8. Provinsi Banten (Kab. Pandeglang dan Kab. Lebak)
  9. Provinsi NTB (Kab. Lombok Barat, Kab. Lombok Tengah, Kab. Lombok Timur, Kab. Sumbawa, Kab. Dompu, Kab. Bima, Kab. Sumbawa Barat dan Kab. Lombok Utara)
  10. Provinsi NTT (Kab Sumba Barat, Kab. Sumba Timur, Kab. Kupang, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Timor Tengah Utara, Kab. Belu, Kab. Alor, Kab. Lembata, Kab. Ende, Kab. Manggarai, Kab. Rote Ndao, Kab. Manggarai Barat, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Nagekeo, Kab. Manggarai Timur, Kab. Sabu Raijua dan Kab. Malaka)
  11. Provinsi Kalimantan Barat (Kab. Sambas, Kab. Bengkayang, Kab. Landak, Kab. Ketapang, Kab. Sintang, Kab. Kapuas Hulu, Kab. Melawi dan Kab. Kayong Utara)
  12. Provinsi Kalimantan Tengah (Kab. Seruyan)
  13. Provinsi Kalimantan Selatan (Kab. Hulu Sungai Utara)
  14. Provinsi Kalimantan Timur (Kab. Nunukan dan Kab. Mahakam Ulu)
  15. Provinsi Sulawesi Tengah (Kab. Banggai Kepulauan, Kab. Donggala, Kab. Toli-Toli, Kab. Buol, Kab. Parigi Moutong, Kab. Tojo Una-Una, Kab. Sigi, Kab. Banggai Laut, dan Kab. Morowali Utara)
  16. Provinsi Sulawesi Selatan (Kab. Janeponto)
  17. Provinsi Sulawesi Tenggara (Kab. Konawe, Kab. Bombana dan Kab. Konawe Kepulauan)
  18. Provinsi Gorontalo (Kab. Boalemo, Kab. Pohuwato dan Kab. Gorontalo Utara)
  19. Provinsi Sulawesi Barat (Kab. Polewali Mandar dan Kab. Mamuju Tengah)
  20. Provinsi Maluku (Kab. Maluku Tenggara Barat, Kab. Maluku Tengah, Kab. Buru, Kab. Kepulauan Aru, Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Seram Bagian Timur, Kab. Maluku Barat Daya, Kab. Buru Selatan)
  21. Provinsi Maluku Utara (Kab. Halmahera Barat, Kab. Kepulauan Sula, Kab. Halmahera Selatan, Kab. Halmahera Timur, Kab. Pulau Morotai, Kab. Pulau Taliabu)
  22. Provinsi Papua Barat (Kab. Teluk Wondama, Kab. Teluk Bintuni, Kab. Sorong Selatan, Kab. Sorong, Kab. Raja Ampat, Kab. Tambrauw, Kab. Maybrat)
  23. Provinsi Papua (Kab. Merauke, Kab. Jayawijaya, Kab. Nabire, Kab. Kepulauan Yapen, Kab. Biak Numfor, Kab. Mappi, Kab. Asmat, Kab. Yahukimo, Kab. Pegunungan Bintang, Kab. Tolikara, Kab. Sarmi, Kab. Keerom, Kab. Waropen, Kab. Supiori, Kab. Memberamo Raya, Kab. Nduga, Kab. Lanny Jaya, Kab. Memberamo Tengah, Kab. Yalimo, Kab. Dogiyai, Kab. Intan Jaya, Kab. Deiyai)
Daerah-daerah diatas menjadi daerah terluar yang masih tertinggal dari segi perekonomian dibanding daerah-daerah yang lain. Melalui keadaan ini pemerintah berupaya untuk mengangkat daerah-daerah ini ke arah perekonomian yang lebih maju dengan pembangunan-pembangunan yang dirasa mampu untuk mengubah keadaan di beberapa daerah. Pemerintah berhasil melakukan pengentasan beberapa daerah dengan melakukan peningkatan Indeks pembangunan Manusia, pertumbuhan Ekonomi dan penurunan angka kemiskinan. Hal ini terbukti berhasil mengangkat status beberapa daerah melalui perubahan melalui pembangunan. 
Dalam Rapat Koordinasi Nasional Pembangunan Kawasan Perdesaan, di Jakarta, Selasa 16 Oktober 2018, Mendes-PDTT, Eko Putro Sandjojo mengatakan:

“Dalam 4 tahun ini, melalui Prukades (Program Unggulan Kawasan Perdesaan), Indonesia sudah mampu membangun infrastruktur di kawasan perdesaan dalam skala yang sangat masif dan belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia. Bank dunia mendorong pembangunan di desa ini terus berjalan, terutama untuk pemberdayaan sumber daya manusia dan ekonomi” 

Komitmen Bangun Perbatasan jadi Terasnya Indonesia membuat pembangunan dan peningkatan Ekonomi gencar dilakukan di banyak daerah di indonesia. Kementerian Desa dan Transmigrasi (Kemendes, PDTT) melalui Prukades membantu dan memfalisitasi setiap kebutuhan infrastruktur untuk mengangkat tingkat kesejahteraan daerah-daerah terluar.

Untuk mendukung percepatan dalam pembangunan daerah-daerah tertinggal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) menetapkan 4 program prioritas yang akan dikembangkan. Empat program tersebut diyakini akan membangkitkan pembangunan dan perekonomian daerah-daerah tertinggal. Empat program prioritas tersebut adalah

  • Pengembangan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades),
  • Membangun embung air desa,
  • Mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dan
  • Membangun Sarana Olahraga Desa (Raga Desa). 
Ke-empat program ini sangat gencar di laksanakan disetiap daerah, bahkan bukan hanya instansi pemerintahan saja yang aktif, masyarakat, Organisasi bahkan Perusahaan juga cukup menolong dalam usaha menyokong pembangunan baik infrastruktur maupun dalam pelestarian lingkungan di daerah-daerah tersebut. Salah satu perusahaan yang sangat aktif dalam menyokong pembangunan ini adalah KORINDO
Korindo adalah perusahaan Indonesia yang bergerak di berbagai bidang usaha. Manajemen Korindo didukung oleh para ahli dan profesional dari dalam dan luar negeri yang menolong setiap proses yang berjalan dalam pembangunan daerah. Korindo berpusat pada strategi untuk menyokong pembangunan baik infrastruktur maupun sosial masyarakat dan lingkungan di Indonesia melalui program-program pemberdayaan masyarakat dan komunitas sebagai bukti nyata komitmen Korindo berkarya untuk Indonesia. KORINDO sangat berkomitmen untuk berkontribusi terhadap kegiatan pengembangan ekonomi setempat melalui program Corporate Social Contribution (CSC/CSR) termasuk program infrastruktur, layanan kesehatan, dan program pemberdayaan lainnya yang sesuai sehingga mampu mendorong kesejahteraan dan mata pencaharian penduduk setempat. Korindo tidak hanya aktif di bidang bisnis dan investasi, tetapi sukses dalam membangun perekonomian yang sehat di daerah-daerah tertinggal.
Pada tahun 2018, Korindo membuktikan prestasi yang layak diterima dengan mendapatkan penghargaan Padmamitra Award melalui salah satu bisnis yang di jalankan di Papua, yaitu PT Tunas Sawa Erma (TSE) dalam kategori penanganan keterpencilan oleh Kementerian Sosial Republik Indonesia. Usaha yang dilakukan dalam membangun daerah 3 T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) mencakup pelayanan seperti Membangun Fasilitas Kesehatan, Membangun Tempat Ibadah, dan membangun Perekonomian. 
PENGHARGAAN PADMAMITRA KORINDO
KORINDO telah mempekerjakan sekitar 10.000 pekerja di Asiki, . Perusahaan mereka telah mendirikan fasilitas medis pertama di wilayah Asiki, dan telah menyediakan diagnosa dan obat-obatan gratis sejak saat itu. Perusahaan saat ini sedang membangun rumah sakit umum, yang akan menyediakan layanan perawatan kesehatan tingkat tinggi untuk sekitar 20.000 orang, bekerja sama dengan Korea International Cooperation Agency. Bahkan di beberapa daerah, jumlah pajak mereka yang dibayarkan oleh KORINDO seperti di Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel masing-masing setara dengan 30% dan 50% pajak lokal mereka. 
Melalui Korindo, kita akan diajak untuk membangun kesadaran, pengetahuan dan kapasitas, serta mendorong partisipasi masyarakat setempat dalam upaya untuk membangun dan meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan hidup mereka. Korindo berusaha meningkatkan kualitas hidup pelanggan dan menciptakan dunia yang lebih baik dengan pendekatan yang berorientasi pada masa depan, inovatif, dan berpusat pada pelanggan. Korindo mencoba mengajak kita untuk mendorong sinergi dalam bentuk koordinasi, integrasi, dan kolaborasi program-program pembangunan sosial dengan berbagai pemangku kepentingan seperti masyarakat, pemerintah dan organisasi.
Filosofi yang mereka terapkan adalah meningkatkan kualitas hidup dan menciptakan dunia yang lebih baik dengan pendekatan yang berorientasi pada masa depan yang cerah, pemikiran yang inovatif dan berpusat kepada orang yang berkepentingan. Korindo akan mendorong masyarakat setempat untuk mencari nafkah sendiri melalui kegiatan yang mereka terapkan dan berupaya menciptakan lingkungan yang mandiri dengan menawarkan bantuan seperti pelatihan dalam mengembangkan potensi yang ada.
Korindo peduli daerah
Korindo sangat berpusat pada pelestarian lingkungan seperti pembersihan sungai, penanaman pohon,  pemberian bantuan fasilitas budidaya ikan air tawar di Kampung Hidroponik, peningkatan ekonomi serta mengajak masyarakat untuk berpartisipasi didalamnya. Korindo juga pernah mendapatkan apresiasi atas komitmen pencegahan kebakaran hutan di perkebunan kelapa sawit.
budidaya ikan air tawar
Diluar itu semua, Korindo juga sangat aktif dalam dunia Bisnis dalam meningkatkan perekonomian masyarakat melalui beberapa Bisnis yang mereka jalankan. Bisnis-bisnis yang aktif dijalankan seperti: 
  • Perkebunan (Kayu, Minyak kelapa sawit, Karet)
  • Kertas & Produk Hutan (Pembuatan Kertas, Hasil Hutan seperti Kayu lapis, Chip Kayu, Pelet Kayu, Kayu Gergajian / Moulding)
  • Konstruksi & Industri Berat (Menara Angin, Struktur Pabrik dan Baja, Kendaraan Tujuan Khusus)
  • Logistik (Pengiriman, Angkutan, Pusat distribusi)
  • Layanan Keuangan (Keamanan, Multi Keuangan, Asuransi)
  • Real Estate
bisnis korindo
Bisnis Korindo. Source: Korindo.co.id
Korindo Berpusat di Jakarta dan memiliki unit Produksi yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia melalui beberapa daerah seperti Bintan, Cilegon, Jakarta, Cileungsi, Surabaya, pangkalan Bun, Kapuas, Balikpapan, Buru, Halmahera dan Boven Digoel dengan target pasar Internasional yang lebih luas.
Daerah Operasi Korindo
Daerah Operasi Korindo. Source: Korindo.co.id
Sampai saat ini, beberapa kota diluar negeri sudah dijangkau oleh pasar produksi Korindo. Kota-kota yang menjadi target pasar utama adalah Kota Los Angeles, Amsterdam, Kotka, Jeddah, Dubai, Tokyo, Seoul, Hongkong, Ho Chi Minh, Singapore, Head Quarter Jakarta dan Sidney. Lebih dari 40 Tahun, Korindo berhasil membangun rasa percaya dan antusiasme masyarakat indonesia bahkan dunia dan konsisten membangun bisnis di indonesia serta mendorong pertumbuhan bisnis global dengan inovasi-inovasi modern. 
Target Pasar Korindo
Target Pasar Korindo. Source : Korindo.co.id
Melalui cara-cara ini, Korindo sukses membuktikan diri sebagai perusahaan yang konsisten dalam menopang pembangunan di Indonesia. Korindo sukses meraih banyak penghargaan atas sumbangsih nya untuk menopang perekonomian dan pembangunan di daerah-daerah yang termasuk dalam daerah 3 T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Ini membuktikan bahwa Korindo memiliki sangat merindukan Perubahan untuk Indonesia yang lebih baik
Apa yang dilakukan Korindo selama ini hanya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah tertinggal. Biarlah ini juga menjadi inspirasi bagi setiap rakyat indonesia untuk menyokong dan berpartisipasi aktif dalam membangun daerah 3 T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal) sehingga Indonesia semakin maju dan mampu bangkit untuk mewujudkan Indonesia Maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *