Mengenal Suku Dayak : Budaya, Tradisi, Sejarah dan Kepercayaan

Suku dayak 1

Indonesia merupakan salah satu negera multikultural terbesar di dunia. Hal ini bisa dilihat dari keadaan sosio- kultural, agama ataupun geografis yang begitu bermacam- macam dan luas. Saat ini ini, jumlah pulau yang terdapat di daerah Negara kesatuan republik indonesia( NKRI) kurang lebih 13. 000 pulau besar dan kecil. Populasi penduduknya berjumlah lebih dari 200 juta jiwa, terdiri dari 300 suku yang memakai hampir 200 bahasa yang berbeda. Tidak hanya itu mereka juga menganut agama dan keyakinan yang beragam seperti Islam, Katolik, Kristen Protestan, Hindu, Budha, Konghucu dan bermacam berbagai aliran keyakinan.

Kebudayaan adalah salah satu peninggalan berarti untuk suatu Negara berkembang, kebudayaan tersebut untuk sarana pendekatan sosial, simbol karya daerah, asset kas daerah dengan menjadikannya tempat wisata, karya ilmiah dan lain sebagainya. Kata budaya dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai pikiran, ide,  budi ataupun adat- istiadat.

Dalam hal ini suku Dayak Kalimantan yang mengedepankan budaya leluhurnya, sehingga kebudayaan tersebut bagaikan ritual ibadah mereka dalam menyembah sang pencipta yang dilatarbelakangi keyakinan tradisional yang disebut Kaharingan. Sebagai bukti ragam budaya Indonesia ialah tradisi Tiwah sebagai salah satu kebudayaan warga Dayak Ngaju Propinsi Kalimantan Tengah yang pada mulanya merupakan suatu tradisi keyakinan warga Kaharingan. Berbagaimacam prosesi yang terjadi pada kegiatan tersebut, antara lain: Ngayau( penggalkepala), ritual Tabuh (tidak tidur sepanjang dua malam dengan diselingi minuman).

Pengertian Suku Dayak
Suku Dayak merupakan suku asli Kalimantan yang hidup berkelompok yang tinggal di pedalaman, di gunung, dan sebagainya. Kata Dayak itu sendiri sebenarnya diberikan oleh orang- orang Melayu yang tiba ke Kalimantan. Orang- orang Dayak sendiri sesungguhnya keberatan mengenakan nama Dayak, karena lebih diartikan agak negatif. Sementara itu, semboyan orang Dayak adalah“ Menteng Ueh Mamut”, yang berarti seorang yang mempunyai kekuatan gagah berani, dan tidak tahu menyerah ataupun pantang mundur.

Suku Dayak dibagi dalam bermacam sub- suku yang kurang lebih berjumlah 405 sub- suku. Tetapi, secara garis besar Suku bangsa Dayak dibagi dalam 6 rumpun besar, yaitu Apokayan (Kenyah- Kayan- Bahau), Ot Danum- Ngaju, Iban, Murut, Klemantan, dan Punan. Suku Dayak Punan ialah Suku Dayak yang sangat tua mendiami Pulau Kalimantan.

Asal Mula Dan Sejarah Kebudayaan Suku Dayak
Dayak ialah istilah untuk penduduk asli pulau Kalimantan. Pulau kalimantan dibagi berdasarkan wilayah Administratif yang mengendalikan wilayahnya masing- masing terdiri dari: Kalimantan Timur ibu kotanya Samarinda, Kalimantan Selatan dengan ibu kotanya Banjarmasin, Kalimantan Tengah ibu kotanya Palangka Raya, dan Kalimantan Barat ibu kotanya Pontianak. Kelompok Suku Dayak, dibagi lagi dalam sub- sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub

Tiap- tiap sub suku Dayak di pulau Kalimantan memiliki adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbandingan adat istiadat, budaya, ataupun bahasa yang khas. Masa lalu warga yang saat ini disebut suku Dayak, mendiami wilayah pesisir tepi laut serta sungai- sungai di masing- masing pemukiman mereka. Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J. U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan. Kuatnya arus urbanisasi yang membawa pengaruh dari luar, seperti melayu menyebabkan mereka menyingkir semakin jauh ke pedalaman serta perbukitan diseluruh wilayah Kalimantan.

Mereka menyebut dirinya dengan kelompok yang berasal dari suatu wilayah berdasarkan nama sungai, nama pahlawan, nama alam serta sebagainya. Misalnya suku Iban asal katanya dari ivan (dalam bahasa kayan, ivan= pengembara) demikian pula menurut sumber yang lainnya kalau mereka menyebut dirinya dengan nama suku Batang Lupar, sebab berasal dari sungai Batang Lupar, wilayah perbatasan Kalimantan Barat dengan Serawak, Malaysia. Suku Mualang, diambil dari nama seseorang tokoh yang disegani (Manok Sabung/algojo) di Tampun Juah serta nama tersebut diabadikan menjadi sebuah nama anak sungai Ketungau di wilayah Kabupaten Sintang( karena suatu peristiwa) dan setelah itu dijadikan nama suku Dayak Mualang. Dayak Bukit( Kanayatn/ Ahe) berasal dari Bukit/ gunung Bawang. Demikian pula asal usul Dayak Kayan, Kantuk, Tamambaloh, Kenyah, Benuag, Ngaju dan lain- lain, yang memiliki latar belakang sejarah sendiri- sendiri.

Tetapi terdapat juga suku Dayak yang tidak mengenali lagi asal usul nama sukunya. Nama” Dayak” ataupun” Daya” merupakan nama eksonim (nama yang bukan diberikan oleh mayarakat itu sendiri) dan bukan nama endonim (nama yang dikasih oleh penduduk itu sendiri). Kata Dayak berasal dari kata Daya” yang maksudnya hulu, untuk mengatakan warga yang tinggal di pedalaman ataupun perhuluan Kalimantan umumnya dan Kalimantan Barat spesialnya (meski saat ini banyak warga Dayak yang sudah tinggal di kota kabupaten serta propinsi) yang memiliki kemiripan adat istiadat serta budaya serta masih memegang teguh tradisinya.

Adat Istiadat
Dibawah ini ada beberapa adat istiadat bagi suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia supranatural Suku Dayak pada zaman dahulumaupun zaman sekarang yang masih kuat sampai sekarang. Adat istiadat inimerupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia,karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal dari pedalaman Kalimantan.

Upacara Tiwah
Upacara Tiwah merupakan acara adat suku Dayak. Tiwah merupakanupacara yang dilaksanakan untuk pengantaran tulang orang yang sudahmeninggal ke Sandung yang sudah di buat. Sandung adalah tempat yangsemacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk mereka yang sudahmeninggal dunia.Upacara Tiwah bagi Suku Dayak sangatlah sakral, pada acara Tiwah inisebelum tulang-tulang orang yang sudah mati tersebut di antar dan diletakkanke tempatnya (sandung), banyak sekali acara-acara ritual, tarian, suara gong maupun hiburan lain. Sampai akhirnya tulang-tulang tersebut di letakkan ditempatnya (Sandung).

Dunia Supranatural
Dunia Supranatural bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulumerupakan cirri khas kebudayaan Dayak. Karena supranatural ini pula orangluar negeri sana menyebut Dayak sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah suku yang sangat cinta damai asalmereka tidak di ganggu dan ditindas semena-mena. Kekuatan supranaturalDayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk seperti mencarikeberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.

Mangkok merah.  
Mangkok merah merupakan media persatuan Suku Dayak,  mangkok merah beredar jika orang Dayak merasa kedaulatan mereka dalam bahaya besar. Panglima atau sering suku Dayak sebut Pangkalim biasanya mengeluarkan syarat siaga atau perang berupa mangkok merah yangdi edarkan dari kampung ke kampung secara cepat sekali. Dari penampilansehari-hari banyak orang tidak tahu siapa panglima Dayak itu. Orangnya biasa- biasa saja, hanya saja ia mempunyai kekuatan supranatural yang luar biasa. Percaya atau tidak panglima itu mempunyai ilmu bisa terbang kebal dari apasaja seperti peluru, senjata tajam dan sebagainya.

Mangkok merah tidak sembarangan diedarkan. Sebelum diedarkan sang panglima harus membuat acara adat untuk mengetahui kapan waktu yang tepatuntuk memulai perang. Dalam acara adat itu roh para leluhur akan merasukidalam tubuh pangkalima lalu jika pangkalima tersebut ber “Tariu” (memanggil roh leluhur untuk untuk meminta bantuan dan menyatakan perang ) maka orang-orang Dayak yang mendengarnya juga akan mempunyai kekuatanseperti panglimanya. Biasanya orang yang jiwanya labil bisa sakit atau gila bila mendengar tariu.Orang-orang yang sudah dirasuki roh para leluhur akan menjadi manusiadan bukan. Sehingga biasanya darah, hati korban yang dibunuh akan dimakan. Jika tidak dalam suasana perang tidak pernah orang Dayak makan manusia. Kepala dipenggal, dikuliti dan di simpan untuk keperluan upacara adat. Meminum darah dan memakan hati itu, maka kekuatan magis akan bertambah. Makin banyak musuh dibunuh maka orang tersebut makin sakti.

Mangkok merah terbuat dari teras bambu (ada yang mengatakan terbuat dari tanah liat) yang didesain dalam bentuk bundar segera dibuat. Untuk menyertai mangkok ini disediakan juga perlengkapan lainnya seperti ubi jerangau merah (acorus calamus) yang melambangkan keberanian (ada yangmengatakan bisa diganti dengan beras kuning), bulu ayam merah untukterbang, lampu obor dari bambu untuk suluh (ada yang mengatakan biasdiganti dengan sebatang korek api), daun rumbia (metroxylon sagus) untuktempat berteduh dan tali simpul dari kulit kepuak sebagai lambang persatuan. Perlengkapan tadi dikemas dalam mangkok dari bambu itu dan dibungkusdengan kain merah. Menurut cerita turun-temurun mangkok merah pertama beredar ketika perang melawan Jepang dulu. Lalu terjadi lagi ketika pengusiran orangTionghoa dari daerah-daerah Dayak pada tahun 1967. Pengusiran Dayak terhadap orang Tionghoa bukannya perang antar etnis tetapi lebih banyak muatan politisnya. Sebab saat itu Indonesia sedang konfrontasi dengan Malaysia.

Menurut kepercayaan Dayak, terutama yang dipedalaman Kalimantanyang disampaikan dari mulut ke mulut, dari nenek kepada bapak, dari bapakkepada anak, hingga saat ini yang tidak tertulis mengakibatkan menjadi lebih atau kurang dari yang sebenar-benarnya, bahwa asal-usul nenek moyang suku Dayak itu diturunkan dari langit yang ke tujuh ke dunia ini dengan “Palangka Bulau” (Palangka artinya suci, bersih, merupakan ancak, sebagai tandu yangsuci, gandar yang suci dari emas diturunkan dari langit, sering juga disebutkan “Ancak atau Kalangkang” ).

Tradisi Penguburan
Tradisi penguburan dan upacara adat kematian pada suku bangsa Dayak diatur tegas dalam hukum adat. Sistem penguburan beragam sejalan dengan sejarah panjang kedatangan manusia di Kalimantan. Dalam sejarahnya terdapat tiga budaya penguburan di Kalimantan :

  • Penguburan tanpa wadah dan tanpa bekal, dengan posisi kerangka dilipat.
  • Penguburan di dalam peti batu (dolmen)
  • Penguburan dengan wadah kayu, anyaman bambu, atau anyaman tikar. Ini merupakan sistem penguburan yang terakhir berkembang.

Pada umumnya terdapat dua tahapan penguburan:

  1. Penguburan tahap pertama (primer) yaitu: Parepm Api (Dayak  Benuaq) dan Kenyauw (Dayak  Benuaq) 
  2. Penguburan tahap kedua (sekunder).

Penguburan sekunder tidak lagi dilakukan di gua. Di hulu Sungai Bahau dancabang-cabangnya di Kecamatan Pujungan, Malinau, Kalimantan Timur, banyak dijumpai kuburan tempayan-dolmen yang merupakan peninggalan megalitik.

Masyarakat Dayak Ngaju mengenal tiga cara penguburan, yakni :

  • Dikubur dalam tanah 
  • Diletakkan di pohon besar 
  • Dikremasi dalam upacara tiwah

Kesenian Tari Suku Dayak

  • Tari Gantar
  • Tari Kancet Papatai Tari Perang
  • Tari Kancet Ledo Tari Gong
  • Tari Kancet Lasan
  • Tari Leleng
  • Tari Hudog
  • Tari Hudog Kita
  • Tari Serumpai
  • Tari Belian Bawo
  • Tari Kuyang

Kepercayaan dan Religi
Masyarakat Dayak menganut agama leluhur yang diberi nama sebagai agama Kaharingan. Kepercayaan asli adalah animism yang disebut Kaharingan.  Kata ini diambil dari istilah Danum Kaharingan yang berarti “air kehidupan”.  Mereka percaya pada:

  • Ngajum ganan: makhluk halus dan roh yang tinggal di sekeliling manusia. 
  • Ngaju liau: roh nenek moyang. Menurutnya jiwa orang yang mati (ngajuhambaruan), tinggal di sekeliling manusia sebagai liau. Liau akan kembali kepada dewa tertinggi yang disebut Ranying.

Upacara-upacara yang ada:

  • Upacara sesaji pada roh-roh, 
  • Upacara kelahiran anak, 
  • Memandikan bayi untuk yang pertama kalinya, 
  • Memotong rambut bayi, 
  • Upacara penguburan, orang Dayak yang mati dikubur dalam peti mayat yang berbentuk kayu lesung (ngaju raung). Bila sudah menjadi tulang, diadakan pembakaran mayat yang bagi Dayak Ngaju disebuttiwah,  bagi Ot Danum dan Maanyam disebut ijambe.

Sekarang, agama ini kian lama kian ditinggalkan. Sejak abad pertama Masehi, agama Hindu mulai memasuki Kalimantan dengan ditemukannya peninggalan agama Hindu di Amuntai, Kalimantan Selatan. Selanjutnya berdirilah kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Namun umumnya masyarakat Dayak di pedalaman tetap memegang teguh pada hukum adat/kepercayaan Kaharingan. Sebagian besar masyarakat Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kini memilih Kekristenan, namun kurang dari 10% yang masih mempertahankan agama Kaharingan.

Agama Kaharingan sendiri telah digabungkan ke dalam kelompok agama Hindu sehingga mendapat sebutan agama Hindu Kaharingan. Namun ada pula sebagian kecil masyarakat Dayak kini mengkonversi agamanyadari agama Kaharingan menjadi agama Buddha (Buddha versi Tionghoa), yang pada mulanya muncul karena adanya perkawinan antarsuku dengan etnis Tionghoa yang beragama Buddha, kemudian semakin meluas disebarkan oleh para Biksu di kalangan masyarakat Dayak misalnya terdapat padamasyarakat Dayak yang tinggal di kecamatan Halongdi Kalimantan Selatan.

Di Kalimantan Barat, agama Kristen diklaim sebagai agama orang Dayak,tetapi hal ini tidak berlaku di propinsi lainnya sebab orang Dayak juga banyak yang memeluk agama-agama selain Kristen misalnya ada orang Dayak yang sebelumnya beragama Kaharingan kemudian masuk Islam namun tetap menyebut dirinya sebagai suku Dayak. Agama sejati orang Dayak adalah Kaharingan, di wilayah perkampungan-perkampungan Dayak yang masih beragama Kaharingan berlaku hukum adat Dayak, namun tidak semua daerah di Kalimantan tunduk kepada hukum adat Dayak, kebanyakan kota-kota di pesisir Kalimantan dan pusat-pusat kerajaan Islam, masyarakatnya tunduk kepada hukum adat Melayu/Banjar seperti suku-suku Melayu-Senganan, Kedayan, Banjar, Bakumpai, Kutai, Paser, Berau, Tidung, dan Bulungan.

Bahkan di wilayah perkampungan – perkampungan Dayak yang telah sangat lama berada dalam pengaruh agama Kristen yang kuat kemungkinan tidak berlaku hukum adat Dayak/Kaharingan..Belakangan penyebaran agama Nasrani mampu menjangkau daerah-daerah Dayak terletak sangat jauh di pedalaman sehingga agama Nasrani dianut oleh hampir semua penduduk pedalaman dan diklaim sebagai agama orang Dayak.
Suku Dayak umumnya beragama Katolik dan Kristen, demikian pula dengan Dayak Kanayatn, ( + 68 % Katolik, + 29 % Protestan, ), sebagian kecil masih agama suku + 2,5 % dan ada juga yang Islam + 0,5 %.

KESIMPULAN
Sebagian masyarakat suku dayak pada dasarnya masih sangat menghargai kebudayaan tersebut dan juga sangat menghormati leluhur mereka, karena dalam kehidupan mereka sangat percaya pada leluhur mereka, apapun yang ditinggalkan oleh leluhur mereka itulah yang wajib dikerjakan dan mereka beranggapan bahwa bila ini tidak dijalankan maka akan ada bencana bagi keluarga mereka dan juga orang yang ada disekitar mereka. Dan sistem kekerabatan suku dayak yaitu menggunakan system parental ( ayah dan ibu).

Perubahan suku dayak dari zaman dulu dengan zaman sekarang Suku Dayak Kalimantan zaman dulu lebih primitif dengan tidak menggunakan busana yang semestinya karena memang pakaian adat. Zaman sekarang, pakaian adatnya lebih sedikit dimodifikasi supaya tetap sesuai dengan norma susila di Indonesia. Begitu pula dengan tradisi Telingaan Aruu atau tradisi memanjangkan telinga. Sudah disediakan aksesoris menyerupai daun telinga yang panjang supaya gak perlu lagi memanjangkan telinga secara permanen. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *