Naskah Drama Jaka Tarub Dan Para Bidadari (Versi Kreatif)

“Jaka Tarub Dan Para Bidadari (Versi Kreatif)”

TOKOH:

Para BIdadari 
   -Nawang Wulan 
   -Bunga 
   -Melati
Jaka Tarub
Mbok Randha Tarub
+Narator


 

Narator:
       Dahulu kala di sebuah desa terpencil, hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub. Ia tinggal bersama ibunya yang biasa dipanggil Mbok Randha sedangkan ayahnya sudah lama telah meninggal dunia. Sehari-hari Jaka Tarub berburu ke dalam Hutan sedangkan Mbok Randha bertani padi disawah.
       Pada suatu malam ketika Jaka Tarub sedang tertidur lelap, Jaka Tarub bermimpi mendapatkan istri seorang bidadari cantik nan jelita dari kayangan. Begitu terbangun dari tidurnya kemudian…,
Jaka Tarub: “Ah! Ternyata aku cuma mimpi. (Kaget) Indah sekali mimpiku aku jadi tidak bisa tidur, aku keluar sajalah.” (Duduk diluar rumah menatap ke langit sambil melamun)
Narator:
       Sesaat ketika Jaka Tarub sedang melamun, tiba-tiba terdengar ayam jantan berkokok yang menandakan hari sudah pagi. Ibu Jaka Tarub pun terbangun dari tidurnya.
Mbok Randha: “Jaka Tarub dimana ya? Kok sudah tidak ada di kamarnya. (Kemudian membuka jendela) Kenapa ia pagi-pagi sudah melamun ya?”
Narator:
       Siang harinya Jaka Tarub memutuskan pergi ke Hutan untuk berburu.
Jaka Tarub:“Bu, aku pergi berburu dulu ya.” (Sambil merapikan alat berburunya)
Mbok Randha: “Hati-hati ya nak.”
Jaka Tarub: “Iya bu, tapi ibu juga hati-hati ya!”(Kemudian berjalan menuju Hutan)
Narator:
       Tidak lama kemudian di tengah Hutan Jaka Tarub berhasil memanah seekor rusa besar. Dia sangat senang, namun ketika berjalan pulang kerumah seekor harimau merebut hasil buruannya. Jaka Tarub pun terduduk lemas.
Jaka Tarub:“Sial sekali aku hari ini, sekarang aku harus mencari buruan lagi.” (Berbicara sendiri ketika berjalan di hutan)
Narator:
       Nasib sial belum mau meninggalkan Jaka Tarub, Setelah berjalan dan menunggu…

Jaka Tarub: “(Terduduk lemas) Haahh. Aku lelah sekali tak seekor buruanpun melintas dihadapanku. Matahari sudah hampir terbenam sebaiknya aku pulang saja.” (Berjalan pulang sambil melihat ke langit)
Narator:
       Ketika Jaka Tarub sampai di depan rumahnya, ia terkejut melihat banyak orang berkerumun di depan rumahnya. Jaka Tarub mulai tidak enak hati,

Jaka Tarub: “Ada apa ini?”
Narator:
       Ketika masuk kedalam rumahnya Jaka Tarub kaget melihat ibunya terbaring terbujur kaku, Jaka Tarub menyadari bahwa ibunya telah meninggal dunia. Jaka Tarub tak sanggup menahan air mata, ia berteriak sedih.
Jaka Tarub: “Tidaaak, Ibuuu kenapa bu kenaphaaa..” (Berteriak sambil ekspresi sedih) Setelah ibunya meninggal, Jaka Tarub mengisi hari-harinya dengan berburu. Karena hanya dengan berburu Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya. Di suatu pagi Jaka Tarub telah bersiap untuk berangkat berburu, kemudian ia berjalan ke hutan dengan santai.
Jaka Tarub: “Aaah! Dari tadi pagi aku masih belum mendapatkan buruan juga, di cuaca panas seperti ini lama-lama aku haus juga ya, baiklah aku cari air dulu saja.”
Narator:
       Kemudian Jaka Tarub berjalan mencari sumber air…,
Jaka Tarub: “Akhirnya ada danau juga, (Menghentikan langkah) sepertinya aku mendengar suara gadis-gadis yang sedang bersenda gurau. Ah! Mungkin ini hanya khayalanku saja, mana mungkin ada gadis-gadis bermain di tengah hutan belantara ini. Tapi coba kuperiksa dulu!
Narator:
       Dengan berjalan mengendap-endap Jaka Tarub melangkahkan kakinya ke danau, suara gadis-gadis itupun semakin jelas terdengar. Jaka Tarub mengintip dibalik batu besar kearah danau.
Jaka Tarub:“Haaahhh?, (Terkejut sambil menganga) Apakah aku tidak salah lihat?, ada gadis-gadis cantik sedang mandi di danau tengah hutan belantara begini.
Narator:
       Lalu Jaka Tarub mendengarkan obrolan gadis-gadis itu dan ia mengetahui bahwa mereka adalah para bidadari dari kayangan dan mereka hanya bisa kembali kekayangan dengan selendangnya. Kemudian ia pun mengingat kembali mimpinya dulu,  ia mendapatkan istri seorang bidadari cantik dari kayangan. Dan Jaka Tarub pun mempunyai rencana jahat untuk mengambil selendang bidadari itu.

Jaka Tarub:“Dari pada aku hanya mengambil satu selendang saja, lebih baik aku mengambil semua selendang itu dan merekapun akan menjadi istriku. Ha, ha, ha.” (Berbisik dan mengendap-endap mengambil selendang sambil tertawa jahat)
Narator:
       Setelah mengambil semua selendang bidadari itu, Jaka Tarub kembali benrsembunyi dibalik batu. Lalu seorang bidadari berkata…
Bidadari (Melati):“Ayo kita pulang sekarang, matahari sudah hampir terbenam.”
Bidadari (Bunga & Nawang Wulan:“Baik kakak!” (Kompak sambil tersenyum)
Narator:
       Para bidadari itu pun terkaget-kaget karena semua selendangnya tidak ada pada tempatnya.
Para bidadari:“Appaaah…” (Kompak sambil menganga)

Bidadari Bunga:“Bukankah kita tadi menaruh selendang kita disini?, Kenapa sekarang tidak ada ya?.”
Bidadari Nawang Wulan: “Mit adaww inimah, jika kita tidak bisa menemukan selendang kita kita tidak akan bisa pulang ke Kayangan.” (Panik sambil putus asa)
Narator: 
   Para bidadari pun menangis karena tidak bisa pulang ke kayangan.
Para Bidadari: Barangsiapa yang bisa memberikan kami pakaian akan kujadikan saudara bila ia perempuan, tapi bila ia laki laki akan kami jadikan suami. 

Narator: 
    Jaka Tarub yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Nawangwulan dari balik pohon tersenyum senang. 
Jaka Tarub: Ha …ha…ha….! (bergumam) Akhirnya mimpiku menjadi kenyataan!
Narator:
   Jaka Tarub pun keluar dari persembunyiannya dan berjalan kearah danau. Ia membawa baju mendiang ibunya yang diambilnya ketika pulang tadi. Jaka Tarub segera meletakkan baju yang dibawanya di atas sebuah batu besar seraya berkata….
Jaka Tarub: Hai….bidadari! Aku Jaka Tarub. Aku membawakan pakaian yang kau butuhkan. Ambillah dan pakailah segera. Hari sudah hampir malam!
Narator: 
    Jaka Tarub meninggalkan para bidadari dan menunggu di balik pohon besar tempatnya bersembunyi. Tak lama kemudian para bidadari datang menemuinya.
Bidadari Nawangwulan: Aku Nawangwulan dan mereka adalah saudarauku Bunga dan Melati. Kami bidadari dari kayangan yang tidak bisa kembali kesana karena bajuku hilang. Hai, Jaka. Karena kami  tadi sudah bersumpah, kami bersedia menerimamu untuk jadi suami kami.
Jaka Tarub: Terima kasih, Nawangwulan dan para bidadari. Kalau begitu, ayo sekarang kita pulang ke rumahku.
Nawang Wulan dan Para Bidadari:
Baiklah.
Narator:
   Tak seorang pun penduduk desa yang mencurigai siapa sebenarnya Nawangwulan, Bunga, dan Melati. Jaka Tarub mengakui istrinya itu sebagai gadis-gadis yang berasal dari sebuah desa yang jauh dari kampungnya.
   Sejak menikah dengan para bidadari, Jaka Tarub merasa sangat bahagia. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya selama ini. 
Jaka Tarub: (heran) walau dimasak setiap hari mengapa padi di lumbung kelihatannya tidak berkurang ya? justru Lama-lama tumpukan padi itu semakin meninggi. 
Narator: 
   Pada suatu pagi, Para Bidadari hendak mencuci ke sungai…
Para Bidadari: Kang Mas, kami mau mencuci dulu dan tutup kukusan nasi yang sedang dimasak, jangan dibuka ya.
Jaka Tarub: Iya.
Narator: 
    Ketika sedang bosan sendirian dirumah, Jaka Tarub teringat akan nasi yang sedang dimasak istrinya, Tanpa sadar Jaka Tarub membuka kukusan nasi itu. Ia lupa akan pesan Nawangwulan.
Jaka Tarub: (terkejut)Haaahh? Di dalam kukusan ini hanya ada setangkai padi? Para Bidadari hanya memasak setangkai padi. Apa maksudnya ya?  Aku tidak mengerti. 
Narator:
    Sesaat Jaka Tarub masih dalam kebingungan, tiba-tiba Nawang Wulan, telah sampai di rumah menatap marah kepada suaminya di pintu dapur.  
Para Biadadari:Kang Mas! Kenapa kau melanggar pesanku?
Jaka Tarub:
(terdiam tidak bisa menjawab)
Bidadari Melati: Hilanglah sudah kesaktianku untuk merubah setangkai padi menjadi sebakul nasi!
Duuuuhh!(muka kesal) Mulai sekarang aku harus menumbuk padi untuk kita masak. Karena itu kau harus menyediakan lesung untukku!
Jaka Tarub: Maafkan aku. Aku  menyesal tidak menghiraukan perkataan kalian.
Narator:
    Sejak kejadian itu, mulailah terlihat persediaan padi mereka semakin lama semakin menipis. Bahkan sekarang padi itu sudah tinggal tersisa di dasar lumbung.
 
    Seperti biasa pagi itu Para Bidadari ke lumbung yang terletak di halaman belakang untuk mengambil padi. Ketika sedang menarik batang batang padi yang tersisa sedikit itu, Nawangwulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. Karena penasaran, Nawangwulan terus menarik benda itu.
Nawang wulan: (terkejut dan wajah pucat, kesal) Haaahh? Ini kan baju dan selendangku yang berwarna merah. Kenapa bisa ada disini? Wuaah ini pasti perbuatan Jaka Tarub. Jadi, jadi yang mengambil baju dan selendangku selama ini adalah Jaka Tarub. Jaka Tarub menipuku. Sama sekali aku tidak menyangka ternyata yang tega mencuri bajuku adalah Jaka Tarub. Ah! Aku, aku ingin segera pulang ke kayangan. Aku rindu dengan saudara-saudaraku di kayangan. Aku ingin kembali ke asalku.
Narator: 
    Sore hari ketika Jaka Tarub kembali ke rumahnya, ia tidak mendapati Nawangwulan dan Para Bidadari. 
Jaka Tarub: (berteriak) Wulan! Wulan! Wulan! Dimana kau?
Hari sudah menjelang malam, tapi tak kutemukan Nawangwulan dan Para Bidadari. Dimana mereka ya?
Narator:
    Tiba tiba Jaka Tarub yang sedang berdiri di halaman rumah melihat sesuatu melayang menuju ke arahnya. Dia mengamatinya sesaat.
Jaka Tarub terpana. Beberapa saat kemudian ia mengenali ternyata…..
Jaka Tarub: Haaahh? Wulan? Wulan? Aku mencari-carimu kemana-mana. Darimana kau Wulan? (Gemetar)Kau Kau memakai baju bidadari, Wulan. Kau Kau cantik sekali memakai baju bidadari dan selendangmu itu. (bergumam) aku sama sekali tidak menyangka kalau Nawangwulan berhasil menemukan kembali baju bidadarinya. berarti rahasia yang kusimpan selama ini telah terbongkar.
Nawang Wulan: (sedih) Kenapa kau tega melakukan ini pada kami Jaka Tarub?
Jaka Tarub: Maafkan aku. A, a, aku menyesal Para Bidadari.
Narator: 
    Hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.
Bunga: Sekarang kau harus menanggung akibat perbuatanmu Jaka Tarub!
Kami akan kembali ke kayangan karena sesungguhnya aku ini seorang bidadari. Tempat kami bukan disini!
Narator:
    Jaka Tarub tidak menjawab. Ia pasrah akan keputusan Para Bidadari.
Jaka Tarub: Iya, Nawang Wulan. Akan aku turuti segala yang kau katakan.
Narator: 
    Jaka Tarub hanya bisa menahan kesedihannya dengan sangat. Ia ingin terlihat tegar.
Setelah Jaka Tarub menyatakan kesanggupannya untuk tidak bertemu lagi dengan Nawangwulan, dan para bidadari pun terbang meninggalkan dirinya. Jaka Tarub hanya sanggup menatap kepergian Para Bidadari. Sungguh kesalahannya tidak termaafkan. Tiada hal lain yang dapat dilakukannya saat ini selain berburu dan memikirkan Para Bidadari.
SELESAI

Klik iklan dibawah ini untuk donasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *